Langsung ke konten utama

Rasa hormatku, teramat dalam.

Dikesempatan ini aku tak ingin bertele-tele untuk menceritakan kisah hidupku. Aku sendiri merasa bimbang dan masih bertanya-tanya ; apakah aku melanjutkan untuk menceritakan kisah hidupku disini atau aku merubah gaya dengan mengisi blog ini dengan cerpen-cerpen yang kubuat. Aku bingung. Ehehehe

Baik lah aku ingin bercerita kali ini, lebih tepatnya curhat. Jika kalian berkenan, tinggalkan coment di kolom komentar dibawah ini.

Mereka pernah hidup dan masih hidup sampai saat ini, berhenti beranggapan kalau umur mereka tak lebih panjang dari umurmu. Karena harfiahnya hanya tuhan yang mengetahui kapan kehidupan itu akan berakhir.
Di bulan ramadhan kemaren atau bicaralah bukan di bulan ramadhan saja. Di bulan-bulan lainnya, misalnya desember saat natal atau perayaan keagamaan lainya yang terkadang bisa juga acara ini dibuat untuk merayakan kelahiran atau kesyukuran. Acara bagi-bagi sedekah bisa berupa uang atau barang, baik barang kebutuhan pokok atau sekunder. Jika kita melihat dengan teliti maka kita akan melihat banyaknya para orang tua atau lansia yang ikut mengantri. Bertahun-tahun yang lalu acara seperti ini tak seubahnya acara pembunuhan massal. Katakanlah ini acara amal memang harus kita mengumbarnya, jika memang 'ikhlas' dan 'amal' yang dituju kenapa tak memakai cara jemput bola. Bukannya akan lebih mudah dan akan merata sampai keplosok-plosok.

Aku merasakan gairah yang luar biasa dalam hidupku. Menyinggung ham atau hak pendidikan entah kenapa aku selalu saja peduli, walau aku tahu saat ini aku tak bisa berbuat nyata dalam kedua hal itu tapi ya mungkin ini lah kata orang tua "remaja itu kebanyakan ngeyelnya dan batu alias keras kepala kalau dikasih tau!" Kata seorang lansia.


Baik saat aku tinggal di balikpapan sana ataupun di kota solo. Aku sering melihat para lansia yang ditelantarkan. Aku melihat ini sebagai sebuah bencana dari dampak kata 'modernisasi'. Ternyata hal ini tak terjadi pada dua kota yang kunjungi saja, atau kota lainnya yang mencakup negara kita di jepangpun hal ini sudah terjadi, kuganti kata 'hal' menjadi 'bencana' karena memang ini bukanlah suatu kewajaran atau sebagai hal yang harus diwajarkan. Gunung Obasuteyama menurut legenda adalah sebagai tempat pembuangan terakhir para lansia yang tak berguna lagi. Aku tak ingin berkomentar banyak dari kisah ini, karena memang itu sudah berakhir bertahun-tahun lamanya.

Mungkin bagi kita, kehidupan sebagai orang dewasa sangatlah menguras tenaga kita tentang pekerjaan, menjaga relasi, atau bagaimana cara untuk bisa nabung dengan kondisi keuangan yang sangat pas-pas'an di awal bulan. Begitu lelahnya sampai sampai saat kita pulang orang tua dan orang rumah sudah terlelap dalam tidurnya, kita hanya bisa bertemu saat sarapan dan di weekend pun kita tak bisa ketemu, karena harus ketemu si doi. Komunakasi kepada orang tua hanya sebatas menyapa dan saling bertanya kehidupan satu sama lain.

Tapi tak bisa dengan mudahnya kita melepas tanggung jawab kita terhadap orang tua walau dalam segi finansial sudah mencukupi. Aku sendiri orang yang jarang ketemu kedua orang tua, kalau ketemu ya paling itu acara makan diluar atau aku yang memaksakan ketemu ditempat kerja karena kangen. Rasa hormatku terhadapa orang tuaku tak hanya aku memposisikan diri sebagai anak yang sudah dilahirkannya, rasa hormatku terlampau dalam(maaf lebay). Melihat kegigihan kedua orang tua menghasilkan sebuah pertanyaan : apakah bisa aku membalasnya. Bodoh memang, karena dari pengalaman orang lain tak ada yang bisa membalas budi dan jasanya. Nilai dalam segi rupiah tak akan cukup membuat senyum sumringah kepadanya. Kau tahu, mungkin belum. Kata ibukku dulu saat kecil sering sakit-sakitan dengan kalimat lain aku ini rawan menerima penyakit

"Masaka bu?" Tanyaku ke ibu, ibuku bernama sugiyatmi. Berartikan orang yang kaya/sugih

 "iyo le" Ibu tenang, tangannya lihai memotong bawang

"Emang aku sering sakit apa bu?"

 "kebanyakan kamu sering demam kalau lebih parah kadang meriang" Jawab ibuku, masih memotong.

"hmm" Aku berusaha menerima hal ini.

 "Kamu tau le sembuhmu dimana?" Tanya ibu kepadaku

"Ya dirumah sakit to bu, atau ngga diklinik. Yo to?"

 "Salah, kamu itu kebal sama obat-obatan. Setiap kali ibu ngobatin kamu di rumah sakit atau klinik kamu ngga sembuh sembuh."

"La trus aku sembuhnya dimana bu?" Tanyaku, ingin tau

 "Kamu sembuhnya kalau bapak habis makan soto di sebelah matahari, tapi sebelumnya harus diajak ke toko mainan dulu. Sehabis itu baru kamu bakal sembuh" sanggah ibu.

"Berarti aku pintar juga waktu kecil, he he he" senyum kecil.

 "Pinter apanya, itu namanya nyusahin!!"

Sebagai manusia memang kita tak akan hidup kalau bukan berawal dari kedua manusia yang berlawan kelaminnya. Aku percaya jika tuhan tak akan salah memeberi kedua orang tua atau sebaliknya pun juga. Aku selalu menghormatinya, teramat dalam.

Semoga kita juga sama...

Surakarta, 25 agustus 2016. Salam hormat!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mencoba menulis tanpa menggunakan majas hiperbola.

Perih sudah hati ini melihat ribuan manusia tak bernyawa berjalan di jalan yang sama. Hai Kamunya :D Dalam setiap artikel yang kubaca hampir semuanya menaruh kalimat pembuka yang berupa basa-basi. Ehehehe Maaf kalau dalam artikel ku kali ini tak ada kalimat basa basi seperti halnya terdapat di setiap artikel atau tulisan Blog. Apa kabar kawan ? - Aku baik-baik saja disini, kuharap kalian pula seperti halnya diriku. Maafkan saya jika perbuatan tercela itu melanggar janji untuk tidak pulang ke jawa. Aku sangat yakin jika kalian sudi untuk memaafkan saya. Aku sudah lama hidup di Jawa, solo adalah jawaban dari kenyamanan yang tidak bisa kudapat dari Balikpapan. Tapi kalian adalah kenyamanan abadi tentang hubungan pertemanan, maaf jika kata yang kupilih adalah "abadi" kalimat yang mengandung majas hiperbola, kurasa sah - sah saja nyatanya aku memang tak sebegitu nyaman dengan hubungan pertemanan, mulai dari aku menginjak tk sampai tamat smp. Aku melabelkan sekolah sebagai sara...

Hidup adalah pilihan

YOUR CHOICE!  Tenggelam dalam dunia gelap, terbawa arusnya jaman dan selalu bertanya dimanakah TUHAN-ku Hidupku bagaikan orang lumpuh yang sebenernya ngga lumpuh, , di umur 18 tahun ini kusebut dengan massa blank space atau area yang hilang. Setiap hari yang diriku lakukan hanya melihat keindahan hidup orang lain, selalu muak dengan kehidupan sendiri, dan menjadi pribadi yang gag jauh beda dengan sekantong sampah!. Lucu memang diriku sendiri lah yang membuka aib, tapi yang pengen ku share ke kalian jangan seperti diriku jadi lah diri sendiri. Pilihlah jalan yang menurut kalian itu lah jati diri hidup kalian sendiri, setiap orang punya ritme yang berbeda tapi yang penting pastikan kalian tidak menyerah atau memutuskan jalan yang salah Balikpapan       07 July 2015

GELAP.

Gelap adalah sebuah cerpen yang saya remake dari cerpen "Aku tidak akan pulang, sebab aku tidak akan pernah pergi" dari Bella trinur hayati. Disini Seberkas cahaya masuk diantara celah cendela yang tertutup rapat. Dengan perlahan delia mulai membuka kedua matanya, Ferdi suami Delia duduk disamping Delia, ia tidak sabar melihat reaksi delia saat melihatnya. Rasa cinta Ferdi terhadap Delia memanglah tak bisa diragukan lagi, tapi dengan keadaan Delia saat ini Ferdi mulai ragu dengan perasaanya terhadap Delia. Mungkin mengubur perasaan cinta terhadap Delia akan lebih logis dengan realita sikap Delia yang berubah-ubah setiap harinya. Delia mengamati jelas foto yang terpampang disudut kamar, Delia merasa pernah melihat pria yang ada didalam foto dengan apa yang ia mimpikan tadi malam. “Selamat pagi Del, mau langsung mandi atau sarapan dulu?” sapa Ferdi dengan senyum menawan. “Siapa kamu?!” Tanya Delia terkejut melihat pria yang ia tidak kenal duduk disampingnya. ...